Closing Ceremony SIT Program

Sudah genap 13 hari program Study International Training dilaksanakan. Hingga pada akhirnya Jumat (3/3)  dilaksanakan Closing ceremony yang menyuguhkan beberapa rangkaian acara. Acara tersebut diantaranya adalah duskusi pluralisme agama di Indonesia. Diskusi ini memaparkan bagaimana  tiap-tiap agama menyikapi keberadaannya dalam pluralism di Indonesia, yang dipresentasikan oleh tiap-tiap perwakilan mahasiswa UGM dari kelima agama yang ada di Indonesia.  Kesimpulan dari diskusi ini adalah adanya sikap toleransi yang tinggi dari masing-masing agama terhadap agama yang lain. Diakhir sesi diskusi ini, perwakilan dari Student SIT juga mempresentasikan Religion on America. Mereka menjelaskan bagaimana toleransi dan populasi agama di Amerika.

Sesi selanjutnya dari Closing Ceremony ini adalah sambutan dari Direktur Akademik Study Abroad Bali, Niwayan Ariyanti. Dalam sambutannya disampaikan ucapan terima kasih kepada segenap yang terlibat program kegiatan ini, baik dari Fakultas Filsafat maupun tim dari Bali. Dilanjutkan dengan sambutan oleh Dr. Arqom Koeswanjono selaku Dekan Fakultas Filsafat UGM. Beliau menyampaikan bahwa kerja sama program SIT ini sudah berlangsung lama. “Terima kasih kepada Ibu Niwayan Ariyanti atas kerjasamanya. Saya kira kerja sama ini sudah cukup lama, kurang lebih sudah dilakukan 18 kali” ujarnya.

Dr. Arqom Koeswanjono juga mengatakan bahwa siap menerima kembal kehadiran mahasiswa-mahasiswa SIT ini apabila ingin menggali informasi lebih banyak.

Sebagai penutup acara ini para mahasiswa SIT disuguhkan dengan penampilan karawitan/kesenian gamelan Fakultas Filsafat dan persembahan musik dari BKM Sunday Morning. Tidak hanya mahasiswa yang turut menghibur Dekan Fakultas Filsafat juga turut mempersembahkan beberapa lagu diujung acara.

Program ini mendapat komentar baik dari para mahasiswa SIT. Salah satunya Peter Rak dari Chicago, Amerika dan ia adalah mahasiswa dari Universitas Hope Collage jurusan Komunikasi dan Musik. “Saya pikir sangat baik. Saya bisa belajar banyak tentang Indonesia, Bali, Jawa dan bahasanya” ujar Peter. Bahkan ia sangat berharap bisa kembali ke Indonesia meskipun belum memiliki rencana saat ini (/Glo).



© Menara Ilmu, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada - 2016