SEMINAR NASIONAL FILSAFAT WAYANG “MERAJUT KE-INDONESIA-AN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT WAYANG”

Jakarta (22/5/2017), dalam rangka memperingati Lustrum X dan Dies Natalis ke-50 Fakultas Filsafat UGM, dilaksanakan Seminar Nasional “Merajut Ke-Indonesia-an dalam Perspektif Filsafat Wayang”di Gedung STR Lt.4 Jakarta Selatan. Seminar diikuti oleh mahasiswa, akademisi, praktisi, dan penggemar wayang. Tujuan utama penyelenggaraan Seminar tersebut adalah untuk melakukan kajian substansial dan filosofis dalam pagelaran wayang dengan studi semiotika, dan berusaha membaca makna serta menyerap nilai budaya bangsa (nusantara) yang terkandung dalam pagelaran wayang.

Di Indonesia, wayang masih banyak dimaknai sebagai seni pertunjukan yang indah dan mengandung mitos semata, padahal dalam pagelaran wayang terdapat makna-makna simbolik dan nilai-nilai budaya yang sangat relevan menjadi tuntunan dalam hidup bermasyarakat. Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Sri Teddy Rusdy (narasumber) bahwa dalam lakon wayang banyak mengandung nilai yang dapat menjadi tuntunan hidup, misalnya dalam Lakon Dewa Ruci mengandung nilai tentang usaha manusia untuk mencapai pengetahuan terdalam tentang realitas, kemudian Lakon Arjunawiwaha: mengandung nilai keutamaan seorang ksatria dalam menjaga keseimbangan lahir-batin, antara tugasnya sebagai ksatria dan ketenangan batinnya sebagai seorang manusia, artinya lakon yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang adalah persoalan dalam kehidupan manusia di dunia nyata, ujarnya.

Senada dengan hal itu, Prof. Dr. Bambang Sugiharto (narasumber) mengatakan bahwa wayang adalah wilayah mitos (grand-narrative) yang bukan hanya soal keindahan, permainan bentuk, skill, ritual, festival, atau klangenan, melainkan juga  perenungan mendalam untuk menangkap hal-hal essensial dalam realitas kehidupan untuk mendapatkan gnosis, ucap Prof Bambang.

Penegasan wayang sebagai media seni pertunjukan yang memberikan pesan nilai relevan dengan kehidupan nyata semakin ditegaskan oleh Prof. Dr. Joko Siswanto (narasumber) bahwa wayang memiliki watak terbuka dalam menghadapi budaya-budaya lain, tetapi sekaligus bisa mengantisipasi, yaitu dengan memfilter dan mengolah untuk memperkuat budaya wayang itu sendiri, kata Prof Joko. Dengan begitu, pesan nilai pagelaran wayang semakin relevan dengan fenomena kehidupan saat ini, yaitu munculnya gerakan radikalisme dan fundamentalisme yang berupaya memecah belah kesatuan negara, karena spirit watak terbuka dan sikap kritis dibutuhkan agar masyarakat mampu menyaring informasi dan kritis  menghadapi pengaruh-pengaruh negatif gerakan fundamentalisme dan radikalisme nasional maupun internasional. Secara substansial, wayang bukan sekedar pagelaran seni semata, tetapi juga merupakan tuntunan dan gambaran kehidupan manusia berbudaya. (Mam/KU)



© Menara Ilmu, Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada - 2016